Pemanfaatan Teknologi Bioflok Dalam Budidaya Udang
Populasi penduduk dunia meningkat secara
signifikan dari 6 milyar pada tahun 2000 menjadi 7 milyar pada pertengahan 2012
dan diprediksi akan menjadi 8 milyar pada tahun 2025 (Population Reference
Bureau, 2012). Peningkatan tersebut membawa konsekuensi naiknya permintaan
sumber bahan pangan. Udang dan produk perikanan lainnya berpotensi menjadi
sumber bahan pangan karena memiliki nilai protein tinggi, mikronutrient penting
untuk kesehatan manusia dan keseimbangan nutrisi.
Hasil perikanan tangkap akibat overfishing
dan pembatasan tangkapan lestari mengkondisikan sektor perikanan budidaya
tumbuh agresif mengalami stagnasi dengan pertumbuhan rata-rata 8,8% per tahun
sejak tahun 1980. Sehingga, diperlukan suatu usaha budidaya berbasis industri
untuk mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan pangan manusia dibumi yang semakin
bertambah dari tahun ketahun. Diana (2009) berpendapat, saat ini tidak ada
sistem produksi pangan yang benar-benar ramah lingkungan terutama dari
perspektif energi dan keanekaragaman hayati, semua menghasilkan limbah,
membutuhkan energi, menggunakan air dan merubah rona permukaan lahan. Dalam
sistem berbasis lahan, budidaya tidak hanya mengambil air dan mengembalikannya,
akan tetapi kondisi air buangan yang dikeluarkan dalam kondisi sudah terdegradasi.
Dampak negatif limbah budidaya terhadap
lingkungan tanpa mengurangi produktivitas dapat dikurangi dengan sistem zero
exchange water sehingga dapat mengurangi resiko pencemaran limbah budidaya
udang ke perairan umum. Namun pergantian air yang terbatas dan kepadatan tinggi
berpotensi menaikan resiko akumulasi bahan organik dari pakan yang tidak
termakan dan sisa metabolisme yang menghasilkan terbentuknya senyawa residu
bernama amonia pada wadah budidaya. Amonia yang beracun semakin bertambah di media
namun masih dapat diserap oleh fitoplankton. Akan tetapi, fitoplankton tidak
mampu menggunakan massa lumpur padat di dasar kolam. Seiring waktu, ketika
fitoplankton terlalu padat akan terjadi kematian massal fitoplankton sehingga
tidak mampu mengurangi limbah beracun bahkan fitoplankton menambah konsentrasi
limbah yang berakibat fatal untuk kelangsungan hidup udang.
Avnimelech dalam Ma’in,dkk (2013) menyatakan penerapan reduksi ammonia dan
nitrit dapat dilakukan dengan perlakuan kimia, fisika dan biologi, salah
satunya adalah dengan penerapan teknologi bioflok (bio-floc technology
system). Istilah bioflok mulai dikenal para pembudidaya udang pada beberapa
tahun yang lalu dan teknologi ini mulai ramai diterapkan sekitar 2-3 tahun
terakhir ini. Teknologi biofloc merupakan perkembangan dari teknologi
probiotik. Keduanya sama-sama menggunakan bakteri sebagai alat untuk menjaga
mutu air. Tetapi kedua teknologi ini seringkali salah dipahami dan salah
dimengerti sehingga pengertiannya jadi campur aduk.
Bioflok adalah teknik pengolahan limbah cair
untuk makroagregat yang dihasilkan dalam sistem lumpur aktif. Lumpur aktif
dapat pula diibaratkan sebagai ‘sup mikroba’ yang terbentuk dari pemberian
aerasi terus-menerus pada biomassa tersuspensi dan mikroorganisme pengurai
dalam limbah cair. Ma’in,dkk (2013) mendefinisikan;
“Bioflok adalah suatu teknik budidaya udang
yang didasarkan pada prinsip amililasi nitrogen organik (amonia, nitrit, dan
nitrat) oleh komunitas mikroba (bakteri heterotrof) dalam media budidaya yang
kemudian dimanfaatkan oleh udang sebagai sumber makanan”.
Burford (2003) dalam Ma’in (2013) menambahkan proses penyerapan nitrogen anorganik
oleh bakteri hanya terjadi ketika rasio C/N lebih tinggi dari 10. De Schryver et
al., dalam Rangka dan Gunarto
(2012) berpendapat, bioflok merupakan suatu agregat yang tersusun atas bakteri
pembentuk flok, bakteri filamen, mikroalga (fitoplankton), protozoa,
bahan organik serta pemakan bakteri dan
dapat mencapai ukuran hingga 1000 µm. Konversi akumulasi nitrogen anorganik
menjadi biomasa bakteri heterotrof dapat dikontrol melalui penambahan bahan
berkarbon seperti molase dengan C/N rasio tertentu. Molase merupakan limbah
pabrik gula pasir yang berbentuk cair, berwarna coklat serta mengandung senyawa
nitrogen, trace element dan sukrosa dengan kandungan total karbon mencapai 37%
(Suastuti, 1998). Pengontrolan C/N rasio perairan melalui penambahan
molase sebagai sumber karbon dapat mengurangi nitrogen anorganik perairan
melalui peningkatan pertumbuhan bakteri heterotrof.
Bila dibandingkan dengan sistem budidaya
konvensional teknologi bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena hemat
dalam hal penggunaan air, pergantian air yang terbatas mengurangi risiko
penyebaran patogen, dan penggunaan lahan lebih optimal karena kepadatan tinggi.
Klaim ramah lingkungan teknologi bioflok
masih terbatas pada berkurangnya dampak lingkungan perairan, seperti pencemaran
bahan organik, penyebaran patogen dan efesiensi penggunaan lahan serta air,
sementara input energi, kebutuhan bahan dan peralatan juga berpotensi
menyumbang potensi penurunan kualitas lingkungan global. Dalam budidaya
intensif, pemberian pakan dan teknik pemeliharaan kualitas air dengan sistem
tertutup dan pergantian air terbatas, membuka peluang penggunaan energi tinggi
dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Selain itu, teknologi
bioflok hanya berkonsentrasi pada konversi TAN (total ammonia nitrogen)
menjadi nitrit, tetapi tidak memperhitungkan konsumsi O2 yang dibutuhkan
untuk proses aerobik oleh bakteri dalam proses mengubah nitrit menjadi nitrat.
Teknik bioflok dapat menyebabkan masalah lingkungan lain yang berkaitan dengan
akumulasi nitrat.
Pada budidaya udang (shrimp aquaculture)
penambahan Bioflock booster dapat dilakukan plate 3‐5 ppm per hari sejak pertama masuk air hingga
menjelang panen. Atau dapat menerapkan dosis lebih besar di 30 hari pertama
budidaya dan selanjutnya dengan dosis normal 3‐5 ppm pasca 30 hari pertama untuk mempercepat
pembentukan bioflocs. Untuk industri akuakultur, budidaya udang khususnya,
sebenarnya tidak memerlukan tambahan sumber karbon dari bahan organik lain,
karena pakan udang sendiri sudah mengandung 58‐60 % karbon (C) yang mempunyai nilai konversi
tinggi menjadi bioflocs dari bahan karbohidrat, protein dan lemak yang
terkandung di dalamnya. Kecuali jika dikehendaki di masa awal budidaya, dimana
jumlah karbon masih relatif rendah di kolam.
Daftar Pustaka
Diana, James S.
2009. Aquaculture Production and Biodiversity Conservation. BioScience Vol.59
No. 1. www.biosciencemag.org.
Ma’in,dkk. 2013.
Penilaian Ekoefisiensi Budidaya
Intensif Udang Vanname (Litopenaeus Vannamei) Berbasis Teknologi
Bioflok. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam
Dan Lingkungan 2013. Hlm. 604-610.
Population
Reference Bureau. 2012. World Population Data Sheet. www.prb.org
Rangka, Nur Ansari dan Gunarto. (2012). Pengaruh
Penumbuhan Bioflok Pada Budidaya Udang Vaname Pola Intensif Di Tambak. Di Dalam
Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan. Balai Penelitian Dan
Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros.
Suastuti N. 1998. Pemanfaatan hasil samping industri pertanian
(molase dan limbah cair tahu) sebagai sumber karbon dan nitrogen untuk
produksi biosurfaktan oleh Bacillus sp. galur komersial dan lokal.
[Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 104 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar